Batam Pos, Rabu 25/3. Bagaimana supaya orang baik-baik bisa dikenal oleh pemilih cerdas? Tentu mereka harus kampanye. Kampanye biasanya bukan sekadar meneriakkan jargon-jargon dan janji, apalagi hanya sekadar membagi kartu nama.
Selalunya dibumbui pengenalan calon wakil rakyat dari masing-masing partai. Disertai juga alasan mengapa para pemilih harus mencontreng nama mereka pada surat suara 9 April nanti.
Beberapa orang yang saya temui kebanyakan belum memutuskan kepada siapa suara mereka akan diberikan. Padahal hampir 8 bulan poster-poster, baliho dan spanduk telah memenuhi ruang publik. Ada wajah teman-teman lama, tetangga sebelah rumah, saudara sepupu, orang yang pernah menolong kita, orang yang pernah ngutang kepada kita, ada orang yang tak asing di tempat ibadah, adapula yang tak asing di dunia hitam, bahkan ada mantan pacar, mantan pejabat, mantan tentara, mantan loper koran, mantan porter pelabuhan dan pssstt mungkin juga ada mantan koruptor. Beraneka ragam tipe dan profesi calon-calon yang kita kenal itu. Nah kepada siapa contrengan akan diberikan?
Hari-hari berikut ini akan semakin ramai dan gencar tema kampanye disebarluaskan. Nuansa narsis memang tak terelakkan. Wajah-wajah yang terpampang pada setiap poster, spanduk dan baliho ada yang dikenal dan sudah terkenal, banyak pula yang sama sekali wajah baru dalam kancah politik sehari-hari. Karena itu memuji diri sendiri alias narsis sebagai: Pembela Wong Cilik, Jujur dan Berani, Terbukti Amanah, Muda Kuat dan Bergairah, adalah sah dalam kampanye. Bahkan mobil pribadi, truk dan angkot turut berjasa sebagai media semangat ”narsis lima tahunan”.
Karena itu cermati baik-baik calon pilihan kita, dengan nurani yang tetap terjaga. Jangan dianggap narsis lima tahunan ini sebagai negatif, toh kata teman di Facebook: Narsis juga (sifat) manusia, bro. Toh, pemilih kita juga sudah semakin cerdas. ***