Tulisan berikut ini merupakan tanggapan saya atas email yang dikirimkan oleh bang Embi Asmara alias Pawana yang merasakan betapa para guru tidak diperhatikan terutama dari segi penambahan wawasan teknologinya, selanjut isinya saya kutip sepenuhnya disini:
bang Embi:
Assalamualaikum wbtApekabar adinde…..Semoga adinde sekeluarga selalu diberkahi umur, Rezki, dan kesehatan yang prima. Supaya negeri ini aman merdeka, sejahtera, orang macam Prof Firdaus ,Zam zami, hrs lebih banyak di negeri ini.
Jelas peningkatan profesionalisme guru di tingkat kabupaten atau kota sering tidak menyentuh kebutuhan guru yang ada disana. Guru masih dilihat dari kaca mata birokrasi, bukan akademisi.Guru perlu mendapat informasi tentang ilmu dan teknologi pendidikan. Namun, itu tidak dipenuhi sehingga semakin lama bekerja, guru semakin ketinggalan informasi. Ini persoalan klasik di Indonesia,”
Begitulah kate Ketua PGRI Pusat Dr. Sulistyo,M.Pd
Dan salah satu kabupaten kota itu masih banyak terdapat dinegeri segantang lade kita ini…..termasuklah lingga.
Ape pendapat adinde tentang hal itu?
wassalamEmbi Asmara alias Pawana
Saya coba menjawab:
Wa’alaikumusalam,
Terimakasih kanda sudi berkunjung ke alamat maya saya ini, dan salam kenal. Saya setuju dengan pendapat kekande itu, tetapi yang perlu bukan tukang dorong aje seperti Prof Firdaus, tetapi penerobos atau guru-guru yang siap merevolusi mind set mereka keluar dari kotak yang ada. Kita dah terlalu banyak tukang kritik, dan dah banyak pula orang kene kritik, tetapi tak juga persoalan inti terpecahkan. Saya rasa, saatnya bagi kita menghimpun tukang terobos, yang berani menerobos jalan pikiran lama. Yaitu juga orang-orang yang bekerja keras, bertindak, mewujudkan imajinasi menjadi kenyataan, menjadi terobosan dan menjadi barang baru yang berguna untuk kehidupan manusia.
Saya pernah baca disebuah buku yang ditulis oleh orang Barat, Daniel Bell dalam bukunya The Future of Technology, dia mengatakan sangat banyak orang mampu berimajinasi, tetapi hanya yang mampu mewujudkan imajinasinya menjadi barang nyatalah yang biasanya lebih maju.
Orang-orang Melayu dah lama bermimpi dan berimajinasi macam mane nak mencapai rembulan, pepatah mengatakan “Bak Pungguk Merindukan Bulan”, tetapi orang-orang Barat macam Neil Amstrong dan Yuri Gagarin lebih maju karena mereka bukan hanya merindu-rindu, tetapi bahkan dah menjejakkan kaki di bulan tu dulu lagi tahun 60-an.
Guru-guru macam kita perlu menularkan semangat berfikir positif, memandang masa depan dengan optimisme, mengajak berbuat sesuatu setelah matang dipikirkan, kepada para peserta didik kita. Agar peserta didik kita juga punya harapan cerah memandang masa depan. Karena kita tak bisa berharap orang lain melakukannya, biarlah kita mulai dari ceruk-ceruk kampong dengan segala kekurangan dan keterbatasan, dan boleh jadi itulah sumber kekuatan kita yang tak dimanja oleh fasilitas. Orang-orang tua kita dulu menjadi hebat, bukan karena fasilitas negara yang melimpah (eh em… sekarang gaji guru kusmangat besar way…!), tetapi mereka berjuang keras di atas penderitaan, dan kekurangan fasilitas, dan hebatnya jadilah orang-orang macam kita-kita ini. Saya jadi teringat kisah Lasykar Pelangi karya Andre Hirata.
Entah iye ntah tidak, tapi saya sedang mencoba… eh…em.
Begitulah agaknya tanggapan saye bang, selamat berjuang.
Salam dari kampus gersang STISIPOL Raja Haji/Fisip Umrah.
nak bimbang hati nih
guru tu pekerjaan profesional
tapi tak sedikit guru menerima gaji senilai kuli
utamanya guru swasta di daerah
tak percaya?