Reformasi di bidang politik sesungguhnya dapat tergambar terutama dalam sistem Pemilunya. Untuk Pemilu 2009 yang akan terjadi pada 9 April 2009, kira-kira 190 hari lagi dari sekarang, kita akan menggunakan UU No. 10/2008 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD. Selain itu, “berkah” reformasi politik juga tergambar dengan menjamurnya jumlah parpol yang akan bersaing merebut jabatan empuk di Legislatif baik tingkat Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota. Sungguh, negeri ini akan diramaikan dengan para politisi, para calon pejabat negara, dan mungkin juga calon NAPI (itu kalau seandainya niat jadi pejabat adalah memperkaya diri, atau memanfaatkan lowongan pekerjaan yang lebih “basah”…), dan besar kemungkinan akan lebih banyak lagi para calon pejabat yang depresi (kita doain jangan bunuh diri) gara-gara impian jadi pejabat membuat dirinya “pape kedane”.
He..em… Itu istilah yang digunakan orang Melayu untuk menyebut keadaan “jatuh miskin karena bangkrut”. Nah, bagaimana tidak, mulai hari ini, akan ada 190 hari lagi uang di kantong dan di rekening Bank bakal terkuras untuk mempersiapkan pernak-pernik kampanye, sosialisasi diri, sumbang sana sumbang sini, melayani tim kampanye yang minta biaya operasional, bahkan simpatisan (mengambang) yang minta bantuan dana untuk lebaran, istri melahirkan ataupu anak yang mau khitanan.
Kalau begitu, betapa besarnya antusiasme orang untuk menjadi pejabat. Mengapa demikian? Ohh… jabatan adalah salah satu daya tarik penuh tantangan yang memicu adrenalin. Terutama di era giri-gini hari. KPK nyorotin terus, tetapi semangat “ngerampok” uang rakyat melalui berbagai fasilitas sebagai pejabat negara tak pernah surut.
Tulisan ini hanya sekedar merefleksi keadaan masyarakat kita, ditengah sulitnya lapangan pekerjaan, ekonomi yang merosot, dan mental kerja keras masih langka, maka menjadi pejabat Negara, jadi anggota Dewan adalah lowongan kerja baru yang menarik. Kenapa tidak dicoba, siapa tahu bisa kaya mendadak, dapat rumah dinas, mobil dinas, baju dinas, laptop dinas, dan lain-lain banyak lagi yang bertajuk “untuk kepentingan dinas”. Dan demikianlah keadaannya, dan tentu saja tidak bisa juga disalahkan atau dianggap rendah. Manusia pragmatis, membuat pilihan secara rasional dan pragmatis, mana yang memberi untung lebih besar tentu itulah yang dikejar.
Udah dech, mari kita baca petikan tulisan dari Republika berikut ini:
http://www.republika.co.id/launcher/view/mid/22/kat/14/news_id/4521
Maafkan saya, tulisan ini tidak bermaksud apa-apa, tetapi minta rakyat pembaca jeli ketika memilih calon pejabat yang mana nasib kita akan ada didalam genggaman mereka.
ha…ha….Kalau yg ini kaya mendadak, dapat rumah dinas, mobil dinas, baju dinas, laptop dinas, bagoslah tu…!!!
Assalamu alaikum wr. wb.
Saudaraku tersayang,
lihat kenyataan yang ada di sekitar kita!
Uang Dihamburkan…
Rakyat dilenakan…
Pesta DEMOKRASI menguras trilyunan rupiah.
Rakyat diminta menyukseskannya.
Tapi rakyat gigit jari setelahnya.
DEMOKRASI untuk SIAPA?
Ayo temukan jawabannya dengan mengikuti!
Halqah Islam & Peradaban
–mewujudkan rahmat untuk semua–
“Masihkah Berharap pada Demokrasi?”
Tinjauan kritis terhadap Demokratisasi di Dunia Islam
Dengan Pembicara:
Muhammad Rahmat Kurnia (DPP HTI)
KH. Ahmad Fadholi (DPD HTI Soloraya)
yang insyaAllah akan diadakan pada:
Kamis, 26 Maret 2009
08.00 – 12.00 WIB
Gedung Al Irsyad
CP: Humas HTI Soloraya
HM. Sholahudin SE, M.Si.
081802502555
Ikuti juga perkembangan berita aktual lainnya di
hizbut-tahrir.or.id
Semoga Ia senantiasa memberikan petunjuk dan kasih sayangnya kepada kita semua.
Ok, ma kasih atas perhatian dan kerja samanya.
Mohon maaf jika ada ucapan yang kurang berkenan. (-_-)
Wassalamu alaikum wr. wb.
“semua kini terbukti apa yg bapak tulis tertanggal 26 september 2008….”kini banyak anggota dewan yang ”bengong” dan ”menggong-gong” melihat hasil penghitungan suara. Walaupun penghitungan belum tuntas tetapi sudah ada Calon Legeslatif (Caleg) yang kena serangan jantung”. Itu baru yang di publikasikan di media saja….mungkin masih banyak calon legeslatif yang ada di Indonesia kena Depresi alias hampir Gila atau pun mungkin sudah gila (maaf agak kasar tp itu adalah realita yang terjadi)……….”
”Mungkin ada sebuah saran Untuk Pemerintah Pusat…..agar pemilu Legeslatif kedepan Pemerintah pusat juga menyediakan Kursi untuk calon legeslatif di rumah sakit jiwa…..kalau perlu kedepan…..di rumah sakit jiwa disediakan ruangan untuk para calon Legeslatif yang gagal….. ”Bukan seharusnya di obati tetapi dibantu agar Caleg2 yang gagal dapat mengekspresikan dirinya sebagai anggota parlement disana…..